6 Daerah di Indonesia ini Memiliki Tradisi Lebaran Unik Setiap Tahunnya – Engrasia
Cart 0
Whatsapp: 081297175060

6 Daerah di Indonesia ini Memiliki Tradisi Lebaran Unik Setiap Tahunnya

Dita Nadya Ardiyani

tradisi lebaran unik Indonesia

Tradisi lebaran unik di Indonesia. (Sumber: Blog Fakta Duniawi)

Tradisi lebaran yang sudah umum di Indonesia adalah mudik, bermaaf-maafan, memasak makanan khas lebaran, dan mengunjungi sanak keluarga untuk menjalin silaturahmi. Tradisi tersebut biasanya dilakukan beberapa hari menjelang lebaran hingga beberapa hari sesudahnya. Padahal, sebenarnya tidak hanya itu saja yang dilakukan, lho. Banyak daerah di Indonesia yang memiliki tradisi lebaran unik dan 6 di antaranya akan kami bahas berikut ini. Apakah kampung halaman Anda termasuk di dalamnya? Mari kita simak.

Festival Meriam Karbit, Pontianak

Festival Meriam Karbit Pontianak

Festival Meriam Karbit. (Sumber: Wisata Pontianak)

Tradisi ini sudah berlangsung lebih dari 200 tahun lamanya. Saat malam takbiran, meriam besar yang terbuat dari kayu berdiameter 30 sentimeter yang dipasang di tepi Sungai Kapuas dinyalakan dan diledakkan. Jumlah meriamnya tidak dapat dihitung dengan jari karena jumlahnya ratusan! Semua meriam tersebut diledakkan bersamaan. Bayangkan betapa ramai dan meriahnya perayaan kemenangan di Pontianak setelah satu bulan berpuasa!

Binarundak, Motoboi Besar

Tradisi Binarundak

Tradisi Binarundak, membakar nasi jaha dalam bambu. (Sumber: Radar Bolmong Online)

Daerah Motoboi Besar yang terletak di Sulawesi Utara menjalankan tradisi binarundak, yaitu memasak nasi massal yang diselenggarakan selama tiga hari. Proses memasak ini dilakukan di tempat umum seperti lapangan atau jalanan dan dibagikan kepada masyarakat setempat serta mereka yang baru saja pulang dari rantau. Nasi yang dimasak adalah nasi jaha yang dibakar dalam batang bambu berlapis daun pisang. Acara makan massal ini menguatkan kebiasaan berbagi dan bersilaturahmi. Apakah Anda tertarik mencicipinya? Lain kali, cobalah bertandang ke sana jelang lebaran dan ikut berpartisipasi.

Perang Topat, Lombok

Perang Topat

Perang Topat. (Sumber: Blog Tokopedia)

Ketupat sebagai salah satu jamuan yang tidak terlewatkan di hari lebaran ternyata tidak hanya dimanfaatkan untuk dimakan. Di Lombok, Nusa Tenggara Barat, terdapat tradisi melempar ketupat. Tradisi ini diselenggarakan seminggu setelah lebaran oleh masyarakat Suku Sasak. Ketupat dalam jumlah banyak tersebut disusun membentuk gunungan seperti tumpeng berukuran besar lalu saling dilemparkan dengan harapan agar doa-doa dikabulkan oleh Tuhan. Selain perang topat, masyarakat Sasak juga bersilaturahmi dan berziarah ke makam leluhur setempat.

Ronjok Sayak, Bengkulu

Ronjok Sayak

Ronjok Sayak. (Sumber: Blog Tokopedia)

Tradisi ronjok sayak yang berarti bakar gunung api diselenggarakan oleh masyarakat Suku Serawai, Bengkulu, setiap malam takbiran. Umumnya tradisi ini dilakukan setelah salat isya. Masyarakat Serawai mempercayai api sebagai penghubung antara manusia dengan para leluhurnya. Cara pelaksanaannya adalah batok kelapa disusun bertumpuk ke atas dan dibakar di halaman rumah setiap penduduk.

Batobo, Riau

Batobo

Batobo. (Sumber: Blog Tokopedia)

Di daerah ini, para perantau yang kembali ke kampung halaman disambut beramai-ramai oleh warga. Mereka akan dibawa menyusuri sawah menuju tempat buka puasa bersama yang telah dipersiapkan dengan diiringi pukulan rebana dalam upacara penyambutan kedatangan. Siapa yang tidak senang disambut dengan cara yang mengharukan seperti ini? Kemudian, di tempat itu pulalah sang perantau beserta keluarga dan warga kampung berkumpul melepas kerinduan dan bersilaturahmi setelah lama tidak berjumpa. Tradisi ini juga ikut diramaikan oleh lomba membaca Al-Quran.

Tumbilotohe, Gorontalo

Tumbilotohe

Gemerlap lampu tumbilotohe. (Sumber: Omarniode.org)

Tradisi Tumbilotohe yang berarti pasang lampu ini diadakan selama 3 hari menjelang lebaran di Gorontalo, pada waktu menjelang maghrib hingga pagi hari. Seluruh sudut kota hingga kampung diterangi oleh deretan lampu botol yang dipasang pada kerangka kayu atau bambu. Filosofi yang melatarbelakangi ini adalah terangnya lampu dalam kegelapan malam adalah waktu yang tepat untuk merefleksikan diri, baik buruknya kita sebagai manusia. Merupakan sebuah momen yang indah dan sakral untuk mendekatkan diri kepada Tuhan ketika tradisi ini berlangsung.

Benar-benar unik, ya, tradisi lebaran di 6 daerah tersebut! Tidak dipungkiri tradisi tersebutlah yang meramaikan suasana serta dirindukan oleh para perantau. Lalu, bagaimana dengan kampung halaman Anda; apakah di sana juga terdapat tradisi lebaran unik? Jangan lupa untuk membaginya di kolom komentar, ya. :)



Older Post Newer Post


Leave a comment

Please note, comments must be approved before they are published